Beranda | Artikel
Bacaan Duduk di Antara Dua Sujud Rabbighfirli
14 jam lalu

Bacaan Duduk di Antara Dua Sujud “Rabbighfirli” ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 1 Jumadil Awal 1448 H / 12 Oktober 2026 M.

Kajian Tentang Bacaan Duduk di Antara Dua Sujud “Rabbighfirli”

Salah satu bacaan yang paling ringkas adalah ucapan:

رَبِّ اغفِرْ لي، رَبِّ اغفِرْ لي

“Wahai Tuhanku, ampunilah aku. Wahai Tuhanku, ampunilah aku.”

Doa ini memiliki dasar yang shahih dari riwayat sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiallahu ‘anhu menjelaskan tata cara shalat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa setelah beliau bangkit dan mengangkat kepala dari sujud, beliau duduk terlebih dahulu di antara dua sujud. Durasi lamanya beliau duduk tersebut kira-kira sama panjangnya dengan durasi ketika beliau sujud.

Membaca “Rabbighfirlii, Rabbighfirlii” (Ya Tuhanku, ampunilah aku; Ya Tuhanku, ampunilah aku) merupakan alternatif bacaan yang lebih mudah, terutama bagi orang yang belum menghafal doa yang lebih panjang seperti “Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii wahdinii”. Doa yang lebih pendek ini menjadi solusi agar tidak tertukar dalam pelafalannya.

Pengulangan suatu kalimat atau doa menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut. Kebutuhan seseorang terhadap ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala jauh lebih penting daripada kebutuhan duniawi. Tanpa ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, seseorang akan mengalami kesengsaraan di dunia maupun di akhirat. Inilah jawaban kenapa para khatib membuka khutbahnya dengan membaca:

وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

“Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsu kami dan dari dampak buruk dosa-dosa kami.”

Dampak Buruk Dosa dalam Kehidupan

Setiap dosa yang dilakukan manusia, baik dosa mata, telinga, lisan, hati, tangan, maupun kaki, memiliki dampak buruk yang nyata di dunia dan di akhirat jika tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara dampak buruk dosa di dunia adalah timbulnya perasaan gelisah, tidak tenang, waswas, dan hati terasa sempit.

Ketenangan jiwa tidak dapat digantikan oleh harta yang melimpah maupun fisik yang sehat. Tanpa ketenangan hati akibat beban dosa, seseorang dapat mengalami penderitaan batin. Berbagai bentuk dosa—seperti menggunjing, melihat hal yang diharamkan, mendengarkan larangan, serta menyimpan sifat sombong, riya, dan iri dengki—akan membuat hati menjadi gelisah. Dampak buruk dari perbuatan dosa tersebut hanya dapat dihilangkan jika diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kesungguhan dalam Memohon Ampunan

Salah satu cara agar dosa-dosa diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan berdoa memohon ampunan, seperti membaca doa Rabbighfirli. Doa tersebut harus dipanjatkan dengan penuh kesungguhan.

Bentuk kesungguhan dalam berdoa ditunjukkan dengan mengulang-ulang bacaan ampunan tersebut. Pengulangan ini membuktikan bahwa seorang hamba benar-benar memohon dan berharap agar dosa-dosanya diampuni.

Jika dosa-dosa tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dampaknya akan dirasakan di dunia maupun di akhirat. Di dunia, hati menjadi tidak tenang. Adapun di akhirat, sebelum masuk ke neraka, seseorang berpotensi menerima azab di alam barzakh atau alam kubur.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa setiap orang yang dimasukkan ke dalam kubur akan menghadapi pertanyaan dari dua malaikat, yaitu Munkar dan Nakir. Pertanyaan tersebut meliputi siapa Tuhanmu (Man Rabbuka), siapa nabimu (Man Nabiyyuka), dan apa agamamu (Ma Dinuka).

Kemampuan menjawab pertanyaan tersebut di alam kubur tidak ditentukan oleh lisan yang bisa mengucapkannya sewaktu di dunia, melainkan bergantung pada sejauh mana seseorang benar-benar mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta memahami ajaran Islam.

Orang yang tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mendapatkan siksaan di alam kubur.

فَيُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى النَّارِ، فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا

“Maka dibukakan baginya pintu menuju neraka, lalu datanglah kepadanya hawa panas dan angin sapuan yang membakar darinya.” (HR. Ahmad)

Seseorang yang berada di alam kubur dapat merasakan siksa neraka ketika dibukakan pintu menuju neraka. Hawa panas dan bau busuk akan masuk memenuhi kubur yang sempit, lalu kuburnya dihimpit hingga tulang-belulangnya remuk.

Di tengah siksaan tersebut, datanglah sosok bermuka mengerikan, berbau busuk, dan berpakaian compang-camping. Ketika mayat itu bertanya mengenai sosok tersebut, ia menegaskan bahwa dirinya adalah penjelmaan dari dosa-dosa yang dilakukan di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa dampak buruk dosa tidak berhenti di dunia, melainkan berlanjut hingga ke alam kubur.

Pentingnya Doa Memohon Ampunan

Agar terhindar dari azab kubur akibat dosa, seorang muslim sangat perlu merutinkan doa memohon ampunan seperti “Rabbighfirli” (Ya Tuhanku, ampunilah aku). Doa ini memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan seorang hamba.

Doa memohon ampunan tidak cukup hanya diucapkan di lisan, tetapi harus diresapi di dalam hati agar terjadi keselarasan antara ucapan lahir dan batin. Menyelaraskan lisan dan hati tidaklah mudah, sebagaimana seseorang yang menghadiri majelis ilmu secara fisik namun pikirannya terbagi ke mana-mana.

Saat membaca doa memohon ampunan, hati seseorang tidak secara otomatis menjadi khusyuk. Untuk memperoleh kekhusyukan, dibutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta ikhtiar dari hamba. Salah satu bentuk ikhtiarnya adalah dengan mengulang-ulang bacaan dzikir.

Pengulangan dzikir membantu menyambungkan konsentrasi antara lisan dan hati. Pada bacaan pertama atau kedua hati mungkin belum terhubung, tetapi setelah diulang beberapa kali hati baru dapat fokus. Hal ini menjadi salah satu hikmah di balik anjuran mengulang istigfar tiga kali serta tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing sebanyak 33 kali setelah shalat.

Kebutuhan Beristigfar dalam Setiap Ibadah

Meskipun seseorang telah banyak menunaikan ibadah seperti shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir, ia tetap senantiasa membutuhkan istigfar. Hal tersebut dikarenakan ibadah yang dilakukan masih banyak mengandung kekurangan.

Sebagai contoh, bacaan memohon ampunan disyariatkan untuk dibaca tepat di tengah pelaksanaan shalat, yaitu saat duduk di antara dua sujud. Perintah memohon ampunan di dalam ibadah utama seperti shalat menunjukkan bahwa amalan yang dikerjakan masih jauh dari sempurna sehingga selalu memerlukan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kualitas Shalat dan Banyaknya Kekurangan dalam Ibadah

Seseorang sangat jarang dapat menjaga kekhusyukan shalat secara penuh dari takbiratul ihram hingga salam. Meskipun seseorang telah mendirikan shalat ribuan kali sejak usia baligh, kualitas shalat yang dilakukan sering kali masih rendah dan jauh dari kesempurnaan. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah yang dilakukan masih memiliki banyak kekurangan.

Kekurangan tersebut tidak hanya terjadi pada shalat, melainkan juga pada ibadah haji, zakat, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan berbakti kepada kedua orang tua. Oleh karena itu, meskipun telah melakukan berbagai macam ibadah, seseorang tetap perlu memperbanyak bacaan rabbighfirli untuk memohon ampunan atas segala kekurangan dalam ibadahnya.

Ketentuan Pengulangan Doa Duduk di Antara Dua Sujud

Lafal rabbighfirli dalam duduk di antara dua sujud boleh dibaca lebih dari dua kali. Hal ini didasarkan pada keterangan Sahabat Hudzaifah radhiallahu ‘anhu mengenai durasi duduk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahwa duduknya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di antara dua sujud adalah sama lamanya dengan sujud beliau.

Para ulama menjelaskan bahwa pengulangan bacaan rabbighfirli bertujuan untuk memperbanyak doa, bukan membatasinya hanya dua kali. Oleh karena itu, seseorang yang shalat sendiri diperbolehkan membacanya lebih dari dua kali. Namun, seorang imam harus memperhatikan kondisi makmum yang heterogen, seperti keberadaan jamaah yang berusia lanjut, sakit, atau memiliki kebutuhan lain, sehingga cukuplah membacanya minimal dua kali agar tidak memberatkan jamaah.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian Bacaan Duduk di Antara Dua Sujud “Rabbighfirli” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56618-bacaan-duduk-di-antara-dua-sujud-rabbighfirli/